Kamis, 02 April 2015

Shalat Gerhana




Shalat Gerhana
Dasar Pelaksanan Shalat Gerhana
Dalam Kitab Shahih Bukhari juz 4 halaman 464, hadits nomor 1044:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِيْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوْعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُوْنَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوْعَ وَهُوَ دُوْنَ الرُّكُوْعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُوْدَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأُوْلَى ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ اَلشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا
          Artinya:.....dari ‘Aisyah (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau shalat bersama orang banyak. Beliau berdiri dan melamakan berdirinya kemudian ruku’ dan melamakan ruku’nya, kemudian berdiri lagi dan melamakan berdirinya, tetapi tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian beliau ruku dan melamakan rukunya, tetapi tidak selama ruku yang pertama, kemudian sujud dan melamakan sujudnya. Kemudian pada rakaat kedua beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama. Kemudian beliau menyudahi salatnya sementara matahari pun terang kembali. Kemudian beliau berkhutbah kepada jamaah dengan mengucapkan tahmid dan memuji Allah, serta berkata: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekahlah... ...
Hukum & Tata cara shalat gerhana

Dalam Kitab Fathul Wahhab juz 1 halaman 149 diterangkan:

صَلَاةُ الْكُسُوْفَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ لِأَخْبَارٍ صَحِيْحَةٍ
Shalat dua gerhana hukumnya sunnah muakkad karena ada beberapa hadits yang shahih

وَأَقَلُّهَا رَكْعَتَانِ كَسُنَّةِ الظُّهْرِ
وَأَدْنَى كَمَالِهَا زِيَادَةُ قِيَامٍ وَقِرَاءَةٍ وَرُكُوْعٍ كُلَّ رَكْعَةٍ

وَأَعْلَاهُ أَنْ يَقْرَأَ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ فِيْ قِيَامٍ أَوَّلٍ الْبَقَرَةَ  وَ ثَانٍ كَمِائَتَيْ آيَةٍ مِنْهَا وَ ثَالِثٍ كَمِائَةٍ وَخَمْسِيْنَ وَ رَابِعٍ كَمِائَةٍ وَ يُسَبِّحَ فِيْ رُكُوْعٍ وَسُجُوْدٍ فِيْ أَوَّلٍ كَمِائَةٍ مِنْ الْبَقَرَةِ وَ ثَانٍ كَثَمَانِيْنَ وَ  ثَالِثٍ كَسَبْعِيْنَ وَرَابِعٍ كَخَمْسِيْنَ 
1.    Minimal dua rakaat seperti shalat sunnah Zhuhur

2.    Sempurna paling rendah tiap satu rakaat ditambah berdiri, membaca Al Fatihah dan ruku’ satu kali


3.    Sempurna paling tinggi setelah membaca Al Fatihah,
- berdiri pertama membaca surat al Baqarah
- berdiri kedua seperti membaca 200 ayat
- berdiri ketiga seperti membaca 150 ayat
- berdiri keempat seperti membaca 100 ayat

- ruku’ & sujud pertama membaca tasbih seperti 100 ayat surat Albaqarah
- ruku’ & sujud kedua membaca tasbih seperti 80 ayat surat Al baqarah
- ruku’ & sujud ketiga membaca tasbih seperti 70 ayat surat Al Baqarah
- ruku & sujud keempat membaca tasbih seperti 50 ayat surat Al Baqarah
Mengeraskan / Melirihkan Bacaan & Khutbah Shalat Gerhana
Dalam Kitab Taqrib halaman 77-78:

 وَيَخْطُبُ  بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ وَيُسِرُّ فِيْ كُسُوْفِ الشَّمْسِ وَيَجْهَرُ فِيْ خُسُوْفِ الْقَمَرِ

Usai shalat gerhana, imam mebaca khutbah.
Membaca lirih dalam shalat gerhana matahari, dan membaca keras dalam shalat gerhana bulan


Waktu shalat Gerhana
Dalam Kitab I’anah juz 1 halaman 63:

وَبَيَانُهُ أَنَّهُ مِنْ ابْتِدَاءِ الْكُسُوْفِ إِلَى تَمَامِ الْاِنْجِلَاءِ
Bahwasanya shalat dimulai pada permulaan gerhana, berakhir sampai matahari/bulan terlihat penuh


Tambahan:

Dalam Kitab Tanzihusysyari’ah juz 1 halaman 177 disebutkan:
وَإِذَا انْكَسَفَ فِيْ جُمَادَى الآخِرَةِ فَهُوَ زَرْعٌ كَثِيْرٌ وَخِصْبٌ وَسَعَةٌ مَعَ قِتَالٍ بَيْنَ النَّاسِ 

jika gerhana bulan terjadi pada bulan Jumadal Akhir, maka  itu pertanda bahan makanan yang banyak, kesuburan dan keluasan, serta terjadinya peperangan antar umat manusia

Semoga bermanfaat
Wallaahu A’lamu bishshowaab


Informasi:
Gerhana bulan total bisa disaksikan dari Indonesia tepatnya terjadi pada hari Sabtu Pon, 15 Jumadil Akhiroh 1436 H./ 4 April 2015 M. mulai jam  17:15 WIB sampai 20:44 WIB.

Sumber:
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,58585-lang,id-c,kolom-t,Gerhana+Bulan+Total+4+April+2015-.phpx
Jumat, 13 Jumadal Akhirah 1436 / 3 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar